SAPI PASUNDAN, PLASMA NUTFAH KEBANGGAN JAWA BARAT

Tanggal Posting : 21 Oktober 2021 | Publikasi : (admin) | Hits : 148

Sapi Pasundan merupakan sapi lokal yang ada di Jawa Barat. Sapi ini berasal dari hasil persilangan antara Bos sundaicus/ banteng/sapi bali, dengan sapi jawa, sapi madura dan sapi sumba ongole dan telah beradaptasi lebih dari 10 (sepuluh) generasi. Hal ini diketahui karena terdapat gen khas sapi bali, sapi sumba ongole, dan sapi madura pada sapi pasundan. Sapi ini memiliki sebaran asli geografis di wilayah Provinsi Jawa Barat meliputi Kabupaten Pangandaran, Tasikmalaya, Garut, Cianjur, Sukabumi, Ciamis, Kuningan, Majalengka, Sumedang, Indramayu dan Purwakarta.

Sapi Pasundan dipelihara secara turun-temurun dan telah menyatu dengan kehidupan masyarakat peternak selama ratusan tahun, serta telah dijadikan sebagai sumber modal kehidupan masyarakat. Sapi ini telah ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian (SK Mentan) Nomor: 1051/Kpts/SR.120/10/2014 tanggal 13 Oktober 2014 tentang Penetapan Rumpun Sapi Pasundan. Dikeluarkannya SK Mentan tersebut menunjukkan bahwa sapi ini perlu dipertahankan sebagai plasma nutfah Indonesia dan perlu dikembangkan di masyarakat. Pengembangan Sapi Pasundan sebagai pemenuhan daging nasional merupakan suatu langkah yang tepat di saat negeri ini masih mengalami kekurangan daging sapi. Sebagai ternak lokal, tentu Sapi Pasundan memiliki keunggulan-keunggulan yang tidak dimiliki oleh sapi lainnya yang sudah lama hidup di lingkungan tropis.

Sapi Pasundan memiliki tubuh berbentuk segi empat dengan kaki yang panjang dan kecil, serta tanduk yang umumnya pendek. Warna tubuh sapi Pasundan dominan merah bata namun terdapat warna putih pada bagian pelvis dan keempat kaki bagian bawah (tarsus dan carpus) dengan batasan yang tidak kontras. Terdapat garis belut atau garis punggung sepanjang punggung dengan warna lebih tua dari warna dominan. Beberapa Sapi Pasundan jantan dapat mengalami perubahan warna dari merah bata menjadi hitam sesuai dengan dewasa kelamin (perubahan hormon androgen).

Sapi Pasundan memiliki keunggulan yaitu lebih mudah beradaptasi terhadap perubahan cuaca. Hal ini tentu akan memberikan dampak positif terhadap sistem kesehatannya karena dengan lebih mudah beradaptasi.  Oleh karena itu, kemampuan tubuh ternak lokal ini dalam merespon perubahan cuaca juga akan semakin baik, sehingga ternak tidak mudah stres. Selain itu, sapi ini mempunyai prosentasi karkas yang cukup baik yaitu berada pada kisaran 50 % (Warstek.com, 2018) dengan bobot potong 300-350 kg dan mempunyai potensi untuk menghasilkan daging dengan kualitas premium. Keunggulan sapi Pasudan yang lain adalah mampu menyesuaikan diri dengan kondisi agroekosistem di Provinsi Jawa Barat. Sistem reproduksi sapi Pasudan juga cukup baik karena mempunyai rentang beranak yang relatif stabil dengan selalu menghasilkan ternak yang mempunyai nilai kondisi tubuh di atas tiga pada skala lima. Selain itu, sapi Pasundan juga memiliki ketahanan terhadap penyakit malignant catarrhal fever (MCF).

Dalam upaya menjaga dan melestarikan plasma nutfah asli Indonesia ini, terdapat empat unsur yang terlibat. Keempat unsur tersebut adalah Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang, Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang, UPTD Balai Perbibitan dan Pengembangan Inseminasi Buatan Ternak Sapi Potong (BPPIBTSP) Ciamis Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jabar, serta Kelompok Peternak Binaan. Keterlibatan keempat unsur tersebut antara lain dalam penyediaan benih sapi Pasundan unggul dan pengembangan berbasis peternak

BET Cipelang sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) dibawah Ditjen PKH yang memiliki tugas dan fungsi sebagai balai yang memproduksi embrio untuk mendapatkan ternak sapi yang berkualitas dan selanjutnya akan dijadikan sapi donor sebagai penghasil embrio. Saat ini donor sapi Pasundan sudah ada di BET Cipelang, donor sapi lokal (plasma nutfah) lainnya yang ada yaitu  Sapi Aceh, Sapi Bali, Sapi Madura dan Sapi Ongole. Hasil embrio sapi pasundan unggul yang dihasilkan dapat diaplikasikan di peternak binaan maupun dibesarkan sendiri oleh BET Cipelang untuk dijadikan pejantan di BIB Lembang maupun di BPPIBTSP.

BIB Lembang juga memiliki peran dalam pengembangan plasma nutfah ini dengan menghasilkan semen beku sapi Pasundan. Semen beku sapi Pasundan yang ada di BIB Lembang sebagai alternatif pejantan selain yang ada di BPPIBTSP. Karena, pejantan sapi Pasundan yang dimiliki oleh BIB Lembang tidak sebanyak yang miliki oleh  BPPIBTSP. Namun masing-masing memberikan kontribusi bagi pengembangan sapi Pasundan di Jawa Barat. Total pejantan sapi Pasundan yang tersertifikasi sebanyak 9 ekor (2 di BIB Lembang dan 7 di BPPIBTSP). Sementara stock produksi semen beku sapi Pasundan dari kedua balai yaitu sebanyak  110.262 dosis dan semen beku yang telah didistribusikan dan digunakan oleh peternak sapi Pasundan di Jawa Barat  sebanyak  10.421 atau 9,45% dari stock produksi.

Sementara itu, populasi sapi Pasundan yang ada di UPTD BPPIBTSP ini sampai dengan Juli 2020  sebanyak 236 ekor yang terdiri atas pedet 31 ekor (18 jantan dan 13 betina), muda 56 ekor (28 ekor jantan dan 28 ekor betina) dan dewasa 149 ekor (Bull 11 ekor, Jantan 26 ekor, 112 ekor betina induk). Selain itu upaya yang dilakukan oleh pemerintah Jawa Barat untuk menggenjot populasi sapi pasundan adalah dengan menggandeng 15 kelompok binaan di 13 kabupaten untuk melestarikan dan memuliakan plasma nutfah sapi Pasundan di Jabar. Kelompok tersebut tersebar di kabupaten Ciamis, Tasikmalaya, Pangandaran, Garut, Majalengka, Kuningan, Sumedang, Subang, Purwakarta, Sukabumi, Cianjur, Bogor dan Cirebon. Kelima-belas kelompok tersebut rata-rata memiliki ternak antara 20-30 ekor, sehingga total sapi pasundan di kelompok binaan sebanyak 300 – 450 ekor. 

Pembinaan secara berkelanjutan terus dilakukan melalui kegiatan berupa sosialisasi semen beku sapi pasundan, workshop sapi pasundan, monitoring kelompok sapi pasundan, dan materi mengenai rekording. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan itu merupakan upaya dalam meyelamatkan dan mengembangkan sapi Pasundan di Jawa Barat. Sehingga nantinya terjadi percepatan pertumbuhan populasi dan perbaikan mutu genetik sapi Pasundan, serta nantinya plasma nutfah Jawa Barat ini dapat berkembang di luar sebaran asli geografisnya (YMY)

 

Oleh Harry Chakra Mahendra

Pengawas Bibit Ternak di Direktorat perbibitan dan Produksi Ternak