Pastikan Ada Kemajuan, Kementan Evaluasi Program Pemberantasan Rabies Di Bali

Tanggal Posting : 06 April 2019 | Publikasi : (admin) | Hits : 190

Bali-Pasca pencanangan vaksinasi rabies secara massal 3 minggu yang lalu (15/3), hampir 82% desa yang tertular rabies pada periode 2018-2019 sudah divaksinasi. Namun begitu Kementan memandang perlu melakukan evaluasi terhadap program pemberantasan Rabies di Bali. Hal ini disampaikan Fadjar Sumping Tjatur Rasa, Direktur Kesehatan Hewan saat mewakili Dirjen PKH melakukan evaluasi pelaksanaan program bersama dengan dinas provinsi, kabupaten/kota, beserta tim (5/4) di Bali.

"Hasil vaksinasi di 3 minggu pertama ini sudah cukup baik, dan saya yakin tim vaksinasi di lapang masih bisa ditingkatkan dan dioptimalkan." ungkap Fadjar.

Menurut Fadjar, Berdasarkan data yang diterima, hampir 10 ribu anjing di vaksinasi setiap harinya, hasil ini jauh lebih tinggi dari hasil vaksinasi harian tahun lalu. Saat ini sekitar 150 ribu ekor anjing telah divaksinasi di seluruh Bali atau mencapai lebih dari 25% total populasi (579 ribu). Sedangkan dengan melihat jumlah desa sasaran vaksinasi, saat ini sudah 214 desa atau 30% dari 716 desa sudah dilakukan vaksinasi di seluruh Bali.

Hasil ini mencerminkan komitmen yang tinggi sudah ditunjukkan dan dinyatakan oleh para bupati/walikota se-Bali yang ditemui sebelumnya oleh tim pemberantasan rabies Pusat, Bali, dan tim pakar sebelum pelaksanaan vaksinasi massal.

“Kementan sangat mengapresiasi dukungan dan komitmen semua pihak untuk program vaksinasi tahun ini. Saya harapkan dengan kecepatan vaksinasi rabies saat ini, target vaksinasi minimal 70% populasi dapat dicapai sebelum 3 bulan” ujar Fadjar.

Program vaksinasi massal rabies 2019 di Bali dilaksanakan untuk mengendalikan dan memberantas rabies di Pulau Bali dengan target sasaran 579 ribu anjing untuk divaksinasi di seluruh wilayah Bali, dengan target utama kabupaten-kabupaten yang mempunyai kasus tertinggi dan berulang yaitu Karangasem, Buleleng, dan Bangli.

Lanjut Fadjar, Bali adalah salah satu provinsi endemis rabies. Bali tertular rabies pada tahun 2008, dan sejak saat itu program pengendalian rabies dengan fokus vaksinasi massal dilaksanakan di Bali yang merupakan kerjasama antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, berserta pihak terkait.

"Untuk itu, bersama kita pastikan kemajuan pelaksanaan vaksinasi agar Bali bebas dari Rabies" tambahnya.

Lanjut Fadjar, dengan komitmen yang kuat melalui program yang dapat menggerakkan seluruh elemen masyarakat khususnya di Bali, target Bali bebas rabies akan segera kita raih.

Sementara itu I Wayan Mardiana, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali memamparkan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan untuk memastikan vaksinasi massal berjalan baik.

"Kami telah mengadvokasi pimpinan daerah, mulai dari Bupati/Walikota sampai Gubernur, dan telah dipastikan komitmen dari setiap pimpinan daerah tersebut untuk program pemberantasan rabies di Bali tahun ini," jelas Mardiana. "Namun kita masih merasakan bahwa pemahaman masyarakat terkait bahaya rabies dan pentingnya vaksinasi masih belum optimal, sehingga upaya-upaya peningkatan kesadaran masyarakat terus kita lakukan," tambahnya.

Tim Pakar Rabies Bali, Prof. I Ketut Puja dan Prof. I Gusti Ngurah Kade Mahardika menyampaikan pentingnya memastikan cakupan vaksinasi di setiap desa, khususnya desa tertular sehingga virus penyebab rabies tidak menular ke hewan lainnya.

"Monitoring dan evaluasi harus dilakukan ke desa-desa yang telah divaksinasi untuk memastikan desa tersebut telah selesai dan semua anjing di desa tersebut sudah divaksinasi," jelas Puja.

"Kita harus memastikan bahwa petugas menyelesaikan target jumlah anjing yang divaksinasi di desa tertular, dan tidak meninggalkannya sampai target tercapai" tambah Mahardika.

"Mengingat bahaya rabies, dan juga kerugian akibat rabies, khususnya bagi ekonomi Bali, Saya meminta kepada seluruh petugas vaksinasi yang bertugas untuk memastikan seluruh desa di wilayah Bali didatangi, dan seluruh anjing divaksin sesuai target waktu. Anjing sehat, keluarga selamat" pungkas Fadjar.

 

Narahubung: drh. Fadjar Sumping Tjatur Rasa, PhD., Direktur Kesehatan Hewan, Ditjen PKH, Kementerian Pertanian.