Kementan Kembali Dorong Ekspansi Pasar Ekspor Perunggasan Ke Timor Leste

Tanggal Posting : 09 April 2019 | Publikasi : (admin) | Hits : 241

Jakarta (9/4)_Pemerintah Republik Indonesia menjamin bahwa setiap unggas dan produk unggas dari peternakan yang memiliki Sertifikat Kompartemen Bebas Avian Influenza (AI) adalah komoditas yang terjamin sehat dan aman dari virus AI untuk perdagangan dalam negeri atau ekspor ke negara lain. Jaminan ini bisa diberikan karena Indonesia telah menerapkan kompartementalisasi sesuai pedoman Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE). Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita di Kantor Pusat Kementerian Pertanian Jakarta 9 April 2019.

Jaminan tersebut sebagai komitmen Pemerintah Indonesia terhadap konsumen produk unggas Indonesia, baik dalam dan luar negeri. Menurut Ketut, pemerintah terus memberikan dukungan ekspansi pasar bagi produk unggas ke luar negeri. Hal tersebut ditegaskan Ketut saat menghadiri pertemuan entry meeting Import Risk Analysis (IRA) untuk produk unggas dengan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) di Surabaya pada 8 April 2019. “Kementerian Pertanian terus mendorong dan memberikan dukungan terhadap perusahaan perunggasan untuk melakukan ekspansi pasar ekspor ke luar negeri. Kali ini giliran PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk yang akan diantar mengepakkan sayap ke negara tetangga RDTL,” ungkap Ketut.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Peternakan RDTL, Domingos Gusmao menyampaikan ketertarikannya untuk meningkatkan impor komoditi unggas, olahan ayam, dan pakan ternak dari Indonesia, hal ini didasari dengan adanya pengalaman impor Day Old Chicks (DOC) Final Stock (FS) dari Indonesia yang sudah berjalan dengan baik. Saat ini Pemerintah RDTL telah menyetujui usulan penambahan impor dari unit usaha lain dari Indonesia yang dimulai dengan kegiatan IRA pada 8-12 April 2019 untuk komoditi unggas PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk. 

Pada entry meeting IRA di Surabaya 8 April 2019 tersebut, selain dihadiri oleh jajaran Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, juga dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur beserta jajaran Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Badan Karantina Pertanian, dan wakil managemen PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk. Sementara itu delegasi dari RDTL terdiri dari Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Mr Domingos Gusmao; Direktur  Kesehatan Hewan Mrs Joanita Bendita da Costa Jong; Direktur Karantina dan Biosekuriti Mr Venacio Oliveira; dan Kepala Departemen Pakan Hijauan dan Nutrisi Hewan, Mr Mario J. Morais serta stakeholder dari RDTL.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Heru Tjahjono dalam sambutannya mewakili Gubernur Provinsi Jawa Timur, menyambut baik pelaksanaan Import Risk Analysis oleh Delegasi RDTL pada unit usaha industri perunggasan di wilayahnya. “Potensi komoditi perunggasan termasuk pakan ternak di Jawa Timur sangat besar. Oleh karena itu, saya mengapresiasi Kementerian Pertanian dan stakeholder terkait yang turut berkontribusi terhadap rencana ekspor komoditi unggas dan pakan ternak dari unit usaha di Provinsi Jawa Timur ini,” tambah Heru. 

Republik Demokratik Timor Leste merupakan negara tetangga yang sangat dekat dengan Indonesia secara historis dan geografis. Perbatasan darat antara RDTL dan Indonesia, menjadi salah satu faktor yang memperlancar terjadinya hubungan perdagangan antara kedua negara. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa nilai ekspor Indonesia untuk produk peternakan ke Timor Leste mencapai USD 9,5 juta pada tahun 2018. Nilai ekspor tersebut masih dapat berkembang dengan diversifikasi produk yang diekspor dan meningkatnya minat serta kepercayaan RDTL terhadap produk Indonesia. 

Salah satu upaya pemerintah Indonesia dalam meningkatkan nilai ekspor tersebut menurut Ketut, yakni dengan menjamin kualitas dan keamanan produk peternakan yang di ekspor. “Semua komoditas unggas dan produk unggas yang diekspor ke Timor Leste berasal dari unit peternakan unggas yang telah mendapatkan Sertifikat Kompartemen Bebas AI dari Kementerian Pertanian, dan untuk komoditas daging ayam beku berasal dari Rumah Potong Hewan Ayam yang memiliki Sertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NKV)”, tukas Ketut. Disamping itu, Ketut juga menyatakan komitmen Indonesia untuk ikut berkontribusi dalam penyediaan pangan asal hewan yang aman, sehat, utuh dan halal bagi RDTL. 

Ketut menjelaskan, bahwa Kementerian Pertanian bersama pihak terkait terus memperbaiki strategi dalam pengendalian dan pemberantasan penyakit Avian Influenza (AI) atau flu burung, melalui zona bebas AI dan kompartemen secara bertahap dan terus-menerus. Sejauh ini, kompartemen bebas AI yang telah disertifikasi sebanyak 177 unit di 10 provinsi, yaitu: Jawa Barat (75), Lampung (14), Jawa Timur (32), Banten (14), Jawa Tengah (6), Bali (13), NTT (6), DI Yogyakarta (4), dan Kalimantan Barat (5), dan Sulawesi Selatan (8).

Import Risk Analysis

Pelaksanaan IRA oleh Delegasi RDTL terhadap unit usaha PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, diakui Domingos sebagai salah satu hasil tindak lanjut dari kerjasama Government to Government antara Republik Indonesia dan RDTL, dan keberhasilan Indonesia melaksanakan kompartemen bebas AI sehingga memenuhi persyaratan perdagangan internasional. “Kerjasama bidang pembangunan pertanian termasuk peternakan antara kedua negara telah dimulai dengan penandatanganan MoU antara Menteri Pertanian Indonesia dengan Menteri Pertanian dan Perikanan RDTL pada 26 Agustus 2015, selanjutnya ditindaklanjuti dengan Technical Agreement yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan antara kedua negara pada 19 April 2018”, jelas Domingos.   

“Import Risk Analysis RDTL kali ini tidak hanya pada breeding farm, hatchery, dan Rumah Potong Ayam, namun juga dilakukan terhadap pabrik pakan ternak”, tambah Ketut. 

Direktur Animal  Health & Laboratory Services PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk, Teguh Y. Prayitno menambahkan bahwa jika proses IRA berjalan lancar dengan dibukanya pasar ekspor bagi produk PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk, maka DOC yang akan dikirimkan nantinya berasal dari unit breeding Parent Stock Grati I Pasuruan dan penetasan telur  Baturiti Tabanan Bali. Sedangkan ekspor pakan akan berasal dari pabrik Sidoarjo dan karkas ayam berasal dari RPA Ciomas Krian, Sidoarjo. 

“Sejauh ini PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk sudah mengekspor 3.9 juta butir Hatching Egg Parent Stock Broiler ke Myanmar sejak tahun 2015. Rencana ekspor di tahun mendatang adalah ke Banglades berupa DOC, Brunei, Pakistan dan Vietnam berupa Hatching Egg,” imbuh Teguh. Lebih lanjut Teguh juga menjelaskan, bahwa proyeksi ekspor JAPFA ke RDTL direncanakan sebanyak 520.000 ekor dengan jumlah pakan yang menyesuaikan feed conversion ratio.

Menanggapi peluang ekspor komoditi unggas ke RDTL, Direktur Corporate Affairs PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk, Rachmat Indrajaya menyatakan, bahwa pihaknya memiliki keyakinan produknya memenuhi standar internasional dan siap untuk memasuki pasar RDTL. “Mulai dari breeding farm dan hatchery, kami sudah menerapkan sistem biosekuriti yang ketat dan telah memperoleh sertifikat kompartemen bebas avian influenza (AI).  Demikian juga pabrik pakan kami telah bersertifikat ISO 9001:2008 dan RPA kami telah memiliki NKV serta berstandar ekspor,” pukas Rachmat.

Pada kesempatan entry meeting IRA tersebut, Kepala Pusat Veterinaria Farma (Pusvetma) Surabaya Agung Suganda juga berkesempatan memperkenalkan produk vaksin, antigent, kit elisa rabies, kit elisa jembrana, dan atisera kepada Delegasi RDTL. Agung menyampaikan bahwa Pusvetma juga sangat terbuka apabila RDTL memerlukan pasokan vaksin, antigent, kit elisa rabies, kit elisa jembrana, dan atisera yang diproduksi oleh Pusvetma.  “Pusvetma siap memberikan pelayanan dan mengembangkan pasar vaksin, antigent, kit elisa rabies, kit elisa jembrana, dan antisera ke RDTL”, jelas Agung. 

Kesiapan Pusvetma menawarkan produknya ke pasar ekspor tersebut, didasarkan kualitas produk yang dihasilkan telah melalui proses produksi yang memenuhi standard dan jaminan mutu produk yang dihasilkan. Pusvetma merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis di bawah koordinasi Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, yang telah menjadi Badan Layanan Umum (BLU).

 

Narahubung:
Ir. Fini Murfiani, MSi 
(Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Ditjen PKH, Kementerian Pertanian)