Kementan Jamin Telur Konsumsi Bebas Dioxin Dan Aman Dikonsumsi

Tanggal Posting : 29 November 2019 | Publikasi : (admin) | Hits : 87

Jakarta – Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) menjamin bahwa secara umum telur konsumsi yang beredar di masyarakat tidak mengandung residu bahan-bahan kimia berbahaya seperti dioxin sehingga aman untuk dikonsumsi. Sebagai bentuk penjaminan pemerintah, peternakan diminta melakukan Good Farming Practices serta mendapatkan sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV) untuk farm ayam petelur (layer) yang sistem pemeliharaannya sudah memenuhi syarat. Hal itu disampaikan oleh Fadjar Sumping Tjatur Rasa, Direktur Kesehatan Hewan, disela-sela kunjungannya ke Surabaya, 27 November 2019. 

Fadjar juga menyampaikan bahwa sebagai bentuk penjaminan lain, Pemerintah juga telah menerapkan Sistem Kompartemen dalam penjaminan kesehatan hewan yang ada di hampir seluruh peternakan di Indonesia. Kawasan peternakan tersebut telah diatur berada jauh dari kawasan industri dengan sistem kandang, dan bukan ayam yang dilepas dan diliarkan. 

Menurutnya masyarakat Indonesia tidak perlu khawatir dalam hal mengkonsumsi telur akibat beredarnya berita hasil penelitian International Pollutants Elimination Network (IPEN) yang menyebutkan ditemukannya 3 telur ayam yang mengandung dioxin di daerah Tropodo, Sidoarjo. Daerah tersebut merupakan daerah terdampak dari polusi hebat terkait pembakaran lebih dari 50 ton plastik bermutu rendah, serta 50 industri rumah tangga yang membakar sampah plastik dalam kompor sebagai sumber energi.

"Hasil temuan pada 3 telur ayam kampung tersebut tidak mencerminkan gambaran peternakan Indonesia pada umumnya", jelas Fadjar. 

Lanjut Fadjar menjelaskan bahwa Kementan telah mempunyai standar untuk Good Farming Practises, hal ini meliputi pelaksanaan cara beternak yang baik, dengan higiene dan sanitasi dalam pemeliharaan ternak, sistem pemberian pakan yang baik sehingga terhindar dari kontaminasi, serta pencegahan dan pengobatan penyakit hewan. 

"Kementan juga menerapkan sistem kompartemen dalam penjaminan terhadap 
bebas penyakit Avian Influenza dan penyakit lain, pengaturan lalu lintas ternak, vaksinasi, dan pengobatan. Dari segi obat hewan, Kementan juga melakukan pelarangan terhadap pengunaan antibiotic growth promotor sehingga ternak bebas dari antimicrobial resistance, dimana dihasilkan ayam sehat yang terbebas dari resistensi antibiotik" tambahnya. 

Fadjar kemudian menjelaskan bahwa sebagai bentuk penjaminan, Kementan telah melakukan pencegahan dan kontrol dioxin dengan cara melaksanakan tatalaksana insinerasi atau pembakaran sisa peralatan kandang yang terbuat dari bahan plastik, tempat minum, tempat makan, pembakaran dilakukan secara terpisah dari area peternakan; menghimbau peternak melakukan pembakaran limbah terkontrol dengan emisi dioksin rendah; dan mengedukasi peternak agar ayam dikandangkan secara permanen, untuk mencegah ayam berkeliaran di daerah yang tercemar dioxin tinggi (daerah pembakaran plastik atau pembuangan sampah). 

"Kita pastikan juga penerapan Good Farming Practice yang meliputi higiene dan sanitasi dalam pemeliharaan ternak, sistem pemberian pakan yang baik sehingga terhindar dari kontaminasi, serta pencegahan dan pengobatan penyakit; dan mengatur pembangunan daerah peternakan agar jauh dari kawasan industri" pungkasnya. 

 

Narahubung:
Drh. Fadjar Sumping Tjatur Rasa, PhD., Direktur Kesehatan Hewan, Ditjen PKH, Kementan.